Jika Jumlah Pria Sedikit, Bayi yang Lahir Prematur Makin Banyak

http://4.bp.blogspot.com/-TDSGihH2ehs/UvOyNJRqMoI/AAAAAAAAAAc/tVKH64_s2TM/s1600/2.gif
Bookmark and Share
Jakarta, Bayi dikatakan prematur jika dilahirkan sebelum minggu ke-37 kehamilan. Karena dilahirkan terlalu cepat, bayi ini lebih rentan mengalami gangguan perkembangan dan terserang penyakit. Penelitian menemukan bahwa apabila jumlah pria makin sedikit, jumlah kelahiran prematur akan semakin banyak.

Para peneliti dari University of Michigan mengumpulkan catatan kelahiran di AS selama tahun 2000 mengenai kasus bayi berat lahir rendah dan bayi prematur. Peneliti lalu melihat perbandingan jumlah pria dan wanita di wilayah tersebut. Faktor demografi seperti kondisi ekonomi dan tingkat pendidikan penduduk juga ikut dianalisis.

Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah pria yang sedikit berkaitan dengan banyaknya jumlah bayi dengan berat lahir rendah dan bayi lahir prematur. Kedua kasus bayi malang tersebut lebih banyak tejadi di daerah dengan jumlah penduduk wanita melebihi penduduk pria.

Efek kelangkaan pria ini tetap ada walau para peneliti sudah memasukkan faktor sosial ekonomi, ras, dan status pendidikan. Kelangkaan jumlah pria juga bisa dilihat dari banyaknya jumlah ibu yang mengasuh anaknya sendirian. Para peneliti lantas berhipotesis penyebabnya lebih dikarenakan pengaruh evolusi.

"Penelitian ini bukan membuktikan pria penting untuk kesehatan kehamilan, tapi alasannya lebih karena evolusi. Ketika pria sedikit berinvestasi untuk kehamilan, wanita merespon dengan mengurangi investasinya secara fisik. Secara tidak sadar, ia berharap bayinya tidak berkembang sampai dewasa," kata peneliti, Daniel Kruger seperti dilansir Live Science..

Kruger menerangkan bahwa pola serupa sudah terbentuk sejak awal sejarah evolusi manusia, yaitu masa di mana angka kematian bayi masih tinggi. Jika perilaku pria bisa mempengaruhi kesehatan bayi, maka menganjurkan para pria untuk mendukung kehamilan pasangannya akan menghasilkan dampak yang besar bagi kesehatan masyarakat.

Dalam laporan yang dimuat American Journal of Human Biology, Kruger menjelaskan bahwa keberadaan ibu sebagai single parent merupakan indikator sosiodemografi mengenai peran investasi ayah, serta seberapa besar kemungkinan ayah mendukung perkembangan anak-anaknya.

"Jika memungkinkan, kita harus meningkatkan keterlibatan pria dan dukungannya selama kehamilan, serta memperkuat harapan ia akan berada di sekitar ibu untuk membantu membesarkan anak. Tidak harus dukungan finansial, tapi menghabiskan waktu bersama anak, merawatnya, mengajarkan keterampilan dan sebagainya," terang Kruger.

Temuan ini identik dengan temuan sebelumnya yang menunjukkan ibu miskin dan ibu dari kalangan Afrika-Amerika cenderung lebih banyak melahirkan bayi berat lahir rendah ataupun bayi prematur. Di AS, diperkirakan sekitar 1 dari 12 bayi lahir dengan berat kurang dari 2,5 kilogram, masuk kategori berat lahir rendah. Sekitar 1 dari 9 bayi di sana dilahirkan secara prematur.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar